Hujan Embun di Antara Do'a Iman Dan Cinta
Chaper 1
Di
sebuah kelas yang sunyi dan hening ketika pagi hari menunjukkan keceriaannya
bersama burung-burung yang bernyanyi dan sang surya yang selalu tersenyum
menyambut dunia yang bercahaya. Langkah kaki terhenti akan hendak meletakkan
tas selempang ke atas meja. Seorang cewek manis yang mengenakan jilbab putih
melongok sebentar ke arah pandangannya ke depan. Padahal tangannya akan
bergerak meletakkan tas selempangnya ke atas meja namun niat itu batal karena
ia menyadari pandangan seorang cowok yang berkacamata sedang duduk menatap ke
arahnya. Si cewek spontan memerah mukanya karena cowok itu selalu menatapnya
dengan tatapan yang lembut. Setiap kali cewek itu datang pagi-pagi sekali pasti
cowok itu yang pertama kali ada di dalam kelas yang sunyi ini. Entah apa arti
tatapannya? Yang jelas cewek itu tak pernah berbicara lebih dekat dengan cowok
yang terkenal sangat alim di kelasnya.
Cewek itu bernama lengkap Sarah
Hanifah. Ia cewek yang pendiam, pintar, alim dan baik hati. Ia termasuk cewek
yang sangat takut kalau berhadapan dengan cowok. Lalu ia tidak terlalu suka
bergaul sehingga teman-temannya menganggap dia tidak terlalu menarik. Cewek
yang biasa-biasa saja. Dia anak seorang Ustad dan hidup dalam keluarga yang
dididik dengan ajaran agama Islam yang kuat. Karena itulah Sarah sangat
berhati-hati bila berhadapan dengan seorang cowok.
Lalu cowok yang menatapnya itu
bernama Riski Ar Rasyid. Cowok yang pintar, suka memakai kacamata, supel, alim,
ramah dan baik hati. Kulitnya putih bersih. Di balik kacamatanya itu terdapat
kedua mata yang sayu sehingga siapa saja yang menatapnya akan merasa terpesona
akan keindahan kedua matanya. Ia seorang cowok yang gampang tersenyum karena
itu di mana-mana ia mempunyai banyak teman dari kelas satu, kelas dua bahkan
kelas tiga. Ia selalu menatap ke arah Sarah sehingga Sarah merasa aneh dengan
tatapannya itu.
Sarah merasa salah tingkah bila
Riski menatapnya. Ia selalu berusaha menguasai dirinya bila merasakan
salah tingkah itu. Cepat-cepat ia meletakkan tas selempangnya ke atas meja. Ia buru-buru
ingin keluar. Sebelum keluar, ia penasaran ingin melihat apakah Riski masih
memandangnya atau tidak. Ia memalingkan wajahnya ke samping. Riski masih saja
memandangnya dengan aneh dan tiba-tiba Riski melemparkan senyum manisnya. Sarah
semakin memerah mukanya. Jantungnya berdebar dengan keras. Rasanya tubuhnya
bergoncang. Sarah membalas senyuman Riski. Ia segera kabur ke luar kelas untuk
melenyapkan perasaan yang bergejolak di dalam hatinya.
“Astagfirullah… Astagfirullah…
Astagfirullah! Kata Abi, tidak baik seorang cewek muslimah menatap seorang
cowok dengan lama nanti bakal terjadi zina mata. Ya Allah, maafkan hambamu ini.
Astagfirullah al’azhim,” seru Sarah mengucap istighfar berkali-kali sambil
menutup telinganya dengan kedua tangannya saat di luar kelas.
Ia terus berjalan dan berjalan di
koridor sekolah hingga menabrak seseorang. Gedubrak!!! Mereka berdua jatuh
bersamaan.
“Aduh..” mereka berteriak bersamaan.
Sarah mengeluh kesakitan. Lalu ia
menatap orang yang ia tabrak untuk meminta maaf.
“Maaf..”
“Aduh… Sarah, kalau jalan itu harus
hati-hati dong!”
Sarah tersenyum cengengesan. Rupanya
yang ia tabrak itu adalah teman sebangkunya sekaligus teman dekatnya yang
bernama Ana Awwaliyah. Ana mengeluh kesakitan sambil terus berkoar-koar. Ia
cewek yang berambut panjang, cerewet dan galak.
“Maaf Ana.. Sekali lagi aku minta
maaf ya.. aku nggak tahu ada kamu di depan aku. Habisnya aku menutup mata sih…”
Mereka saling berdiri. Ana
mengelus-elus pantatnya yang sakit. Sarah membersihkan sisa-sisa debu yang
menempel di belakang rok abu-abu panjangnya.
“Iya.. aku maafin.. Ngapain sih kamu
jalan sambil nutup mata segala? Memangnya ada apa? Kamu ketakutan lihat hantu
ya..”
“Hantu apaan? Aku sangat
berdebar-debar karena Riski menatap aku dengan aneh lagi.”
“Ha…,” Ana menganga seperti ikan
kehabisan napas.”Oh rupanya, cowok alim itu masih saja memandang kamu ya..
itulah sudah kubilang kalau Riski memandangmu dengan aneh seperti itu tandanya
ia naksir sama kamu. Kamu toh tak percaya orangnya.”
“Aku nggak yakin. Akukan tidak boleh
pacaran sama Abi aku. Walaupun aku memang suka sama Riski. Biar saja ini
berlalu.”
“Kok bilang berlalu. Bodoh kamu
Sar.. Riski itu cowok alim. Kamu mesti mendapatkan cowok yang seperti itu.
Kalau kamu tidak menyatakan cintamu kepadanya dengan cepat nanti Riski bakalan
disambar orang lain lho.. nanti kamu menyesal lagi terus patah hati.”
“Masak cewek yang menembak duluan.
Ogah ah.. harusnya cowok yang duluan yang menembak.”
“Tidak ada zamannya malu-malu lagi.
Cewek harus menyatakan cinta duluan. Kalau kamu mau.. aku temani kamu menemui
Riski. Terus tembak dia,” kata Ana tiba-tiba bergerak cepat meraih tangan kanan
Sarah.
Sarah kaget setengah mati. Ia
terseret oleh tarikan Ana.
“Ana.. apa-apaan sih..”
“Pokoknya ikut aja. Supaya kamu
nggak terlalu menutupi dirimu seperti itu.”
“Tapi, aku belum pernah berbicara
dengan Riski sejak kelas satu SMA dulu.”
“Apa alasannya?”
“Entah…,” Sarah berdelik sambil
tersenyum simpul.
Ana terus berjalan menarik Sarah.
Orang-orang yang berdatangan melihat tingkah mereka berdua. Sarah merasa malu
sekali akibat ulah temannya yang satu ini. Mereka menjadi pusat perhatian.
Orang-orang melongo dan tanda tanya hinggap di kepala mereka. Entah apa yang
terjadi kepada dua cewek ini. Sepertinya terburu-buru sekali.
“Ana.. tunggu…., aku….!”
Belum sempat Sarah melanjutkan
perkataannya. Hatinya berdebar-debar ketika sudah sampai di kelasnya sendiri.
Mereka masuk kelas. Ana langsung menarik kata-kata menantang sambil tersenyum
lebar.
“Riski.. Sarah mau ngomong sama
kamu…..???!!!”
Kelas kosong melompong. Riski tidak
ada di dalam kelas. Mereka melongo sejadi-jadinya. Ana merasa linglung seperti
orang bodoh. Sarah menghelakan napas karena merasa sudah aman. Tangannya sudah
lepas dari pegangan tangan Ana. Ana berdiri sambil menunjuk ke arah bangku
Riski.
“Riskinya mana?”
“Mana aku tahu,” Sarah mengangkat
kedua bahunya.
“Yeh, nggak jadi deh.. aku
meletakkan tas dulu ya… Temani aku ke kantin ya Sar..”
Ana membatalkan niatnya untuk
membantu Sarah menyatakan cinta kepada Riski. Ia meletakkan tasnya ke atas
meja. Lalu mereka segera beranjak ke kantin. Sarah merasa terselamatkan dari
niat mak comblang dari Ana. Kenapa Ana tak jadi membantu Sarah menembak Riski?
Ana berubah pikiran dalam sedetik. Susah menebak pikiran cewek yang cerewet
itu. Untung saja tak jadi. Kalau tidak Sarah bakal malu setengah mati karena
menembak seorang cowok atas dorongan ide gila dari Ana. Padahal Sarah tidak mau
pacaran. Ia ingin sendirian dulu untuk terus belajar dengan baik dan mengejar
cita-cita impiannya. Itulah harapan yang tertanam dalam hatinya. Siapapun tidak
akan bisa mencegahnya lagi.
———————————————————————
Lalu terakhir cewek-cewek di barisan
keempat termasuk cewek-cewek bandel dan suka meribut bersama cowok-cowok di
kelas yang tukang ribut. Kalau Riski termasuk dalam barisan keempat dekat
cewek-cewek bandel itu. Tapi, dia cowok yang pendiam, rajin dan tenang di
kelas. Sebagian cowok-cowok lainnya berlarian kesana kemari. Ada yang saling
kejar-kejaran. Ada yang asyik melucu. Ada-ada saja pemandangannya. Siapa saja
yang memandangnya pasti akan marah karena saking ributnya. Pernah juga seisi
kelas XII IPS 3 ini dihukum disuruh hormat kepada bendera sampai istirahat
tiba. Dijemur di bawah matahari yang membakar kulit hingga gosong. Karena satu
yang berulah maka semuanya kena imbasnya. Kelas XII IPS 3 bermacam-macam perangai
manusia di dalamnya menghiasi kekompakan antarkelas ini. Walaupun begitu
anak-anak kelas XII IPS 3 ini terkenal sangat prestasinya di bidang ekskul
sekolah. Wali kelasnya saja bangga akan prestasi murid-muridnya ini walaupun
sering menjengkelkan hati.
Namanya anak remaja sedang menikmati
masa-masa terindah saat sekolah di SMAN 7 Pekanbaru ini. Mereka belum labil
untuk menjalani kehidupan yang sangat berbeda dalam jangkauan pikiran mereka.
Mereka hanya bisa berhura-hura. Menghabiskan uang dari orang tua untuk
kepentingan dirinya dan juga sekolahnya. Anak remaja yang dalam proses mencari
jati diri. Masih ingusan dan membutuhkan pembelajaran yang lebih dan matang
dalam ilmu agama dan juga ilmu umum lainnya dari kedua orang tuanya dan juga
dari pihak sekolah. Wajarkan namanya anak remaja itu tahunya sekolah,
berpacaran, kumpul bersama teman-temannya, bersenang-senang dan pokoknya apa
saja. Bila dididik dengan ajaran yang baik, maka anak remaja itu bakal terarah
dengan jalan yang baik pula dan menjadi anak remaja yang berakhlak mulia.
Beralih ke arah Sarah dan Ana.
Tampaknya mereka sudah selesai mengerjakan tugas matematika itu. Waktunya untuk
bersantai. Ibu Eni belum muncul-muncul juga. Sarah menghelakan napas
beratnya untuk melepas ketegangan sehabis menulis tugas matematika tadi. Ana
sedang membaca buku. Lalu Sarah bertopang dagu dan melihat-lihat keadaan kelas
yang kacau balau habis disapu ombak kebisingan. Muncul si cewek cantik berambut
kuncir bernama Rina datang menghampiri meja kedua cewek rajin itu. Rina
tersenyum sambil menyapa mereka berdua.
“Non.. sudah selesai tugasnya ya..
pinjam dong.. aku mau lihat,” tanya Rina seperti biasa ingin mencontek
pekerjaannya si Sarah yang jago matematika itu.
“Alah.. mencontek terus kamu Rin..
Kapan pintarnya kamu?” sergah Ana langsung blak-blakan.
“Jangan gitu dong.. kitakan teman.
Seharusnya kita saling membantu,” kata Rina dengan nada merayu agar mereka mau
memberikan buku latihan mereka.
“Alah.. lagak kamu sih, merayu kami agar kami mau membantu kamu mencontek lagi. Kapan seriusnya kamu belajar dan percaya diri dengan kemampuan kamu sendiri.”
“Ana.. sudah.. jangan cerewet gitu, nggak ada salahnya kita pinjam sebentar daripada kamu berceloteh nggak karuan gitu,” bisik Sarah sambil menyerahkan buku latihan miliknya sendiri kepada Rina.”Ini.. Rina, buku latihannya! Jangan dengarkan perkataan Ana. Kamu tahu sendirikan, kalau dia itu cerewet.”
“Thanks.. temanku sayang. Kamu baik sekali… Sarah,” sahut Rina menerima buku itu dengan tersenyum manis.
“Alah.. lagak kamu sih, merayu kami agar kami mau membantu kamu mencontek lagi. Kapan seriusnya kamu belajar dan percaya diri dengan kemampuan kamu sendiri.”
“Ana.. sudah.. jangan cerewet gitu, nggak ada salahnya kita pinjam sebentar daripada kamu berceloteh nggak karuan gitu,” bisik Sarah sambil menyerahkan buku latihan miliknya sendiri kepada Rina.”Ini.. Rina, buku latihannya! Jangan dengarkan perkataan Ana. Kamu tahu sendirikan, kalau dia itu cerewet.”
“Thanks.. temanku sayang. Kamu baik sekali… Sarah,” sahut Rina menerima buku itu dengan tersenyum manis.
“Uh.. enak aja kamu bilang aku
cerewet, Sar!” Ana melipat tangan sambil mengembangkan kedua pipinya ketika
Rina sudah kembali ke bangkunya di barisan ketiga.
“Jangan marah dong An.. Daripada si
Rina itu tersinggung. Nanti gengnya itu bakal melabrak kamu gara-gara kamu
terlalu blak-blakan sama Rina. Diamin aja daripada kita nanti kena masalah sama
gengnya Rina.”
“Dasar cewek sok cantik itu.
Kerjaannya contek melulu. Kamu sih.. Sar.. terlalu baik sama orang. Jadinya,
mereka terbiasa meminta tolong kamu mengerjakan tugas mereka dan memberikan
contekan untuk mereka.”
“Nggak apa-apalah. Yang penting aku
suka membantu mereka.”
“Ah.. pusing aku melihat sikapmu
itu. Ya sudahlah, terserah kamu saja.”
“He… he… he…,” Sarah tertawa
cengengesan.
Suasana kelas semakin bertambah
ribut. Seperti akan dilanda perang saja. Telinga ikut berdentang seakan tidak
dapat membedakan mana suara-suara yang lembut, keras dan berisik. Cowok-cowok
bandel sedang bernyanyi melantunkan lagu hijau daun yang berjudul “Aku dan Air
Mataku”. Suara-suara bercampur aduk. Ada yang fals, ada yang suaranya meloyo
dan tidak beraturan. Paduan suara yang berantakan ditambah dengan suara pekikan
dari cewek-cewek yang ikut bergabung dengan cowok-cowok itu. Suara-suara
menjadi hancur dan meloyo dari sudut pandang iramanya. Sebagian murid-murid
yang rajin dan baik selalu duduk manis di bangku masing-masing tertawa ria
melihat tingkah mereka yang tidak malu bernyanyi walaupun suaranya hancur
sekalipun. Asyik-asyiknya bernyanyi sambil menari sekalian di depan kelas.
Benar-benar sudah stres atau apalah. Mereka berlagak seperti artis yang
menyanyi di atas panggung. Tergelak-gelak tanpa arah. Sarah dan Ana juga ikut
tertawa melihat tingkah mereka yang menambah kebisingan kelas XII IPS 3 ini.
Tanpa sadar Sarah menangkap sepasang mata yang menatapnya dari samping. Di
tengah riuh ria begini, Riski kembali tertangkap basah sedang memandang Sarah
tanpa berkedip sambil melemparkan senyum manisnya. Sarah tertegun, heran dan
memandang Riski juga dengan penuh pertanyaan yang melekat dalam pikirannya. Apa
arti tatapannya itu? Ana selalu berkata, itu berarti tandanya Riski suka
kepadamu karena dia ingin memberikan sinyal cintanya kepadamu dengan cara
memandangmu tanpa berkedip untuk memberitahu kamu bahwa dia menyukaimu.
Begitulah menurut Ana. Jika memang Riski menyukai Sarah, kenapa Riski tidak
juga memberikan kepastian kepada Sarah atau menyatakan perasaannya kepada Sarah
sejak dulu? Riski selalu memandang Sarah dengan aneh sejak kelas satu SMA. Dia
selalu memandang Sarah saat masuk kelas, saat pelajaran berlangsung, saat
istirahat di kantin dan di mana saja dan kapan saja. Dia selalu memandang Sarah
tanpa mendekati dan tanpa bicara sedikitpun sejak kelas satu SMA. Selalu
sekelas dan selama itu mereka belum pernah sekalipun bicara. Tanpa mengenal
sedikitpun. Hanya tahu nama dan status sebagai teman sekelas saja. Selebihnya
hanya diam dan hanya bisa memandang tanpa alasan yang jelas.
Selama tiga tahun terakhir ini,
Sarah berusaha mencari tahu alasan Riski memandangnya. Ana juga ikut
membantunya untuk menguak kebenaran pandangan Riski yang begitu teduh. Mereka
menjadi detektif mendadak. Mulai mencari informasi melalui teman dekatnya dari
nomor hpnya, mengenai diri Riski yang tertutup maklum Riski dikenal sebagai
cowok yang pendiam, dan apa saja. Yang paling aktif mencari informasi itu
adalah Ana. Kalau Sarah yang bertindak mencari informasi pasti dia malu untuk
bertanya-tanya kepada teman-teman dekat Riski. Untung saja Ana mau membantu.
Sarah hanya menunggu informasi langsung yang akan disampaikan oleh Ana.
Sarah masih memandang Riski dengan
lama. Begitu juga dengan Riski. Seakan-akan ada magnet yang menarik perhatian
Sarah untuk tidak menoleh ke arah lain selain memandang terus ke arah Riski.
Riski terus tersenyum hingga teman sebangkunya memergokinya. Riski kelihatan
gugup ketika Andi, teman sebangkunya memukul pundaknya karena sedari tadi
dipanggil-panggil tidak menoleh juga. Dengan wajah sedikit memerah, Riski
berusaha menguasai dirinya.
“Woi.. Bro.. dari tadi aku
panggil-panggil kamu, nggak noleh-noleh juga. Asyik terus menatap sang pujaan
hati,” kata Andi dengan tersenyum nakalnya menggoda Riski.
“Hush.. apa-apaan katamu itu Di…
diam saja, kenapa? Nanti orang tahu. Malu aku kalau ketahuan kalau aku menyukai
temanku satu kelas ini,” bisik Riski menempelkan telunjuknya ke bibirnya.
“Emangnya kenapa?”
“Kalau ketahuan, nanti teman-teman
sekelas sini nanti bakal ribut. Kamu sendiri tahukan cewek-cewek sini bermulut
ember semua?”
“Ember? Aku nggak lihat mulut
cewek-cewek kelas ini kayak ember. Cantik-cantik malahan..”
“Ya ampun, kamu ini tulalit atau
nggak ngerti bahasa kiasan. Maksudnya cewek-cewek kelas ini suka menggosip dan
kalau ketahuan aku suka sama si Sarah nanti mereka bakal ribut soal itu. Nanti
Sarah bakal malu dan selalu diremehkan oleh mereka. Terus nanti beritanya
menular kemana-mana. Aku dan Sarah jadi bahan gosip, hinaan dan remehan. Karena
itulah aku takut kalau menembak Sarah apalagi Sarah itu tipe cewek yang taat
beribadah, Ayahnya Ustad dan mana boleh dia pacaran. Aku pun tak pernah
sekalipun berbicara sama dia. Mendekatinya pun aku takut nanti teman-teman
sekelas di sini malah memikirkan yang bukan-bukan. Ngeri rasanya seperti itu.”
“Oh.. gitu.. tapi, kalau kamu nggak
menyatakan cintamu kepada Sarah. Nanti Sarah bakal disambar oleh orang lain lho..
Kamu tenang-tenang aja. Siapa sih yang nggak suka dengan cewek alim seperti
Sarah itu,” sahut Andi manggut-manggut.
“Biarkan saja dulu. Sarahkan tipe
cewek yang tidak dibolehkan pacaran sama Ayahnya. Aku akan menunggunya sampai
selesai ujian terakhir sekolah. Kalau sudah lulus barulah aku menembak Sarah.”
“Lagakmu… lama amat kamu membiarkan
Sarah bebas. Kamu yakin pasti mendapatkan hati Sarah.”
“Yakinlah… karena itu aku sekarang
konsentrasi untuk belajar menghadapi ujian UAN. Kalau aku memikirkan masalah
cinta nanti aku nggak konsentrasi belajar pula malah aku yang nggak lulus.”
“Terus, kenapa kamu memandang dia?”
“Habis, dia itu menarik.”
“Ah.. katanya mau konsentrasi
belajar malah memperhatikan cewek pujaannya.”
“Biar tambah semangat.”
“Full spirit dong..”
“Ya.. gitulah.”
Mereka terlibat pembicaraan yang
nakal dan hangat. Meskipun dari nada-nada pikiran dari Riski sepertinya dia
masih meragukan perasaannya terhadap Sarah. Ia masih ingusan dan bersifat
labil. Belum menemukan arti kedewasaan yang sebenarnya. Entah dari lulus SMA
nanti dia menemukan arti cinta yang sebenarnya. Untuk sekarang biarlah dia
bersenang-senang karena merasa jatuh cinta. Begitu dengan Sarah. Dia sangat
menyukai Riski. Dia sudah jatuh cinta kepada Riski sejak pertama kali Riski
memandangnya dengan aneh. Benar-benar perasaan jatuh cinta yang menyenangkan.
Sarah telah menarik pandangannya dari Riski. Sementara ia asyik bicara dengan
Ana. Lalu Ibu Eni masuk ke kelas dan mendadak semuanya berlari-lari
terbirit-birit menuju bangku masing-masing. Ibu Eni kelihatan merah padam
karena menahan amarah mendengar kelas ini ribut sampai ke kantor guru. Tak lama
kemudian hawa panas gunung berapi segera meledak untuk mengeluarkan lava
kemarahannya.
“Kalian anak kelas XII IPS 3, baru
saja ditinggal sebentar sudah seperti anak ayam yang kehilangan induknya.
Ributnya bukan main. Saya sangat sudah kehilangan kesabaran saya. Kalian
semuanya pergi ke luar sekarang juga. Hormat kepada bendera sampai bel
istirahat berbunyi. Saya tidak peduli meskipun sebagian dari kalian yang tidak
ikut meribut. Satu yang berulah, semuanya harus merasakan akibatnya. Ayo,
keluar sekarang juga dan serahkan tugas matematika kalian untuk dikumpulkan di
atas meja saya ini.”
“Ya.. Bu Eni, saya belum selesai
mengerjakannya,” kata seorang cowok mengacungkan telunjuknya ke atas.
“Saya tidak peduli itu. Tidak ada
yang boleh membantah. Ayo, kumpulkan tugas dan keluar kelas menuju lapangan
untuk menjalani hukuman hormat kepada bendera sampai bel istirahat berbunyi.”
“Ya..” seru seisi kelas dengan nada
pasrah.
Semua kelas mengumpulkan buku-buku
tugas matematika masing-masing. Lalu di antara mereka ada yang menyalahkan
antara satu dengan yang lainnya.
“Gara-gara Toni tuh, kena kita semua
lagi.”
“Lagi-lagi hormat kepada bendera.
Aduh, bisa hitam nih kulit putihku ini.”
“Ngapain kalian ikut aku tadi
menyanyi?”
“Pokoknya gara-gara kamu, Ton..”
“Ember… salah sendiri.”
Begitulah kejadiannya. Ibu Eni memimpin dan
mengawasi mereka agar benar-benar menjalani hukuman yang ia berikan. Alamak, ini
karena satu orang yang berulah maka semuanya kena. Anak-anak kelas XII IPS 3
yang malang. Sarah dan Ana malah berwajah kusut. Begitu juga dengan Riski.
Parahnya berada dalam kelas yang penuh dengan anak-anak yang bandel. Maka
berpeluh-peluhlah mereka dengan mandi keringat dan bau yang beraneka ragam.
Selamat menjalani hukuman buat anak-anak kelas XII IPS 3, begitulah seruan dari
Ibu Eni yang tersenyum terkekeh-kekeh.
Chapter 2
Ujian Akhir Nasional telah berakhir sudah
lama. Kini menantikan saat-saat yang paling menegangkan yaitu menunggu
detik-detik kelulusan. Semua anak kelas tiga sudah berkumpul sejak jam 9 pagi
tadi. Kepala sekolah belum juga mengumumkan hasil kelulusan itu. Tampak mereka
sedang kasak-kusuk di tengah aula yang teduh. Anak-anak tersebut menantikan
waktu-waktu yang akan mengejutkan jantung agar tidak terlalu menegangkan.
Mereka ribut sendiri dengan aktifitas masing-masing. Ada yang berwajah pucat
pasi. Ada yang bersikap santai dan tenang tanpa ada sesuatu yang mengganggu
pikirannya. Ada yang sudah
menangis duluan sebelum pengumuman kelulusan
diumumkan karena takut tidak lulus. Ada yang berwajah ceria. Bermacam-macam
variasinya dan sangat menarik untuk ditonton. Di tengah lautan manusia yang
sedang sibuk sendiri itu, Sarah dan Ana sangat panik jika tak lulus. Sesekali
Ana memegang kedua tangannya yang menggigil dan terasa dingin seperti hidup di
kutub utara. Pucat pasi dan sayu kedua mata menemani. Sarah juga takut membayangkan
dia tidak lulus karena selama ini banyak masalah yang menimpa dirinya dan
keluarganya.
“Lama amat pak kepala sekolah mengumumkan
hasil kelulusan. Pegal kakiku duduk di lantai aula ini,” ucap Ana yang langsung
blak-blakan.
“Iya.. kita udah tunggu sejak jam sembilan
pagi. Sekarang sudah jam dua belas siang. Capek aku jadinya,” sambung Sarah
yang tidak sabar.
“Kalau sampai aku tidak lulus, aku akan
bunuh diri.”
“Hush.. apa-apaan sih katamu itu, Ana?
Jangan pesimis begitu dong… Kita semua pasti lulus.”
“Habis… aku ini merasa sangat bodoh.”
“Nggak kelihatan begitu kok, kamukan sudah
berusaha untuk belajar selama ini. Kan, kamu bilang kemarin, kamu sukses
menjawab semua soal ujian itu tanpa merasa kesulitan sedikitpun. Ingat nggak…”
“Oh… iya…,” Ana manggut-manggut.
“Kenapa bilang mau bunuh diri? Kalau kamu
bilang seperti itu sama saja kamu berdoa yang bukan-bukan. Kata-kata itukan
bisa menjadi doa.”
“Ya… karena kalau aku nggak lulus. Orang
tuaku pasti marah. Akukan bisa jadi stres bila orang tuaku marah. Aku takut
membayangkan itu.”
“Janganlah bersikap seperti itu, semangat
dong..”
“Hm… Iya… sih… Baiklah.”
Ana tidak merasa linglung lagi. Tiba-tiba
dia mau bilang bunuh diri jika dia tidak lulus SMA di tahun ini. Benar-benar
putus asa dan prasangka buruk kepada keadaan. Lama sekali mereka mengobrol
hingga Kepala Sekolah datang menghampiri aula yang dipenuhi lautan manusia
tersebut. Kepala sekolah memberikan kata sambutan terlebih dahulu dan
memberikan nasehat-nasehat yang baik untuk anak-anak kelas tiga itu. Kemudian
pada ujung yang paling menegangkan, dari kata-kata Kepala Sekolah yang siap
mengancam jantung untuk siap terkejut. Hasil pengumuman kelulusan akan
diumumkan.
“Dari apa yang telah Bapak sampaikan kepada
anak-anak sekalian. Semoga kalian menjadi anak yang berguna bagi nusa, bangsa
dan agama. Setelah Bapak mengumumkan hasil kelulusan ini, Bapak harapkan
anak-anak sekalian dengan lapang dada menerima hasil keputusan tersebut. Hasil
pengumuman kelulusan hari ini semuanya……..”
Kata-kata Kepala sekolah terputus mendadak
dan Beliau memperhatikan wajah-wajah pucat dari para siswanya. Tanpa menunggu
lama, Kepala Sekolah melanjutkan kata-katanya.
“Bapak mengumumkan semua anak kelas tiga
yang Bapak sayangi ini… SEMUANYA LULUS SERATUS PERSEN!!!”
“Hore… kita lulus!” seru semuanya kompak
kegirangan.
Mereka saling berpelukan dan
jingkrak-jingkrak gembira. Sebagian sujud syukur. Ada yang berteriak senang.
Ada yang menangis bahagia. Warna-warni ekspresi kegembiraan menambah semarak
haru biru suasana kelulusan. Ana dan Sarah saling sujud syukur. Riski juga
sujud syukur bersama Andi. Mereka sangat bahagia karena sudah lulus. Kehidupan
baru akan mereka jelajahi demi masa depan yang cerah benderang.
“Oh ya… Sar.. kamu mau lanjutkan kemana
sudah lulus ini?” tanya Ana sambil tertawa lepas.
“Ah… aku nggak tahu,” jawab Sarah dengan
wajah yang berubah menjadi kusut.
“Lho.. Kenapa nggak tahu?”
“Kayaknya aku nggak bisa kuliah di tahun
ini.”
“Kenapa?”
“Nggak ada biaya, makanya aku harus cari
kerja dulu untuk mengumpulkan biaya kuliah sendiri.”
“Kasihan kamu Sar…” kedua mata Ana tampak
berkaca-kaca.
“Ya… mau bagaimana lagi… Oh ya… kamu mau
kuliah di mana An…?”
“Aku mau kuliah di padang. Nama
universitasnya aku tak tahu. Pokoknya aku mau menjadi seorang dokter. Kan,
orang tua aku tinggal di padang sekarang.”
“Kita berpisah dong…”
“Hm… Tapi, kita tidak boleh putus
komunikasi. Kita selalu sms-an ya…”
“Oke..”
Sarah tertawa renyah bersama Ana. Di
tengah-tengah manusia yang saling meluapkan kebahagiaan, Riski memandang Sarah
dari kejauhan. Sementara Andi yang berada di sampingnya sedang berbicara dengan
teman-teman lainnya. Riski merasa bahagia melihat senyuman bahagia dari sang
pujaan hatinya. Hatinya mulai tergerak untuk segera menyatakan cinta yang telah
lama ia pendam sejak kelas satu SMA. Riski ingin melaksanakan aksinya.
Langkahnya mulai ia majukan. Tiba-tiba ia melihat wajah sedih dari Sarah yang
tampak mendung dan kusam. Riski membatalkan niatnya untuk menyatakan cinta
kepada Sarah karena suasananya saat ini tidak tepat. Tapi, perasaannya
menggebu-gebu ingin segera keluar untuk menjemput perasaannya yang lain. Riski
menjadi tak enak hati. Hingga Andi memanggilnya untuk berkumpul dengan
teman-teman yang ingin segera pergi konvoi dengan sepeda motor masing-masing
untuk merayakan kelulusan yang terasa besar ini.
“Ris… jadi nggak kita keliling kota
Pekanbaru dengan motor nih…? Semuanya sudah menunggu,” seru Andi melambaikan
tangannya di kejauhan bersama teman-temannya.
“Iya… Jadi, aku segera ke sana,” balas
Riski dengan berteriak keras.
“Cepetan dong…”
“Iya…,”
Riski segera berlari-lari kecil. Sempat
juga ia memandang sebentar ke arah Sarah yang mulai bergerak meninggalkan aula
bersama Ana. Semua orang segera meninggalkan aula. Sebagian menyalami para guru
yang sudah ikhlas memberikan ilmu-ilmunya untuk murid-murid tanpa mengenal
lelah sedikitpun. Sebagian berhamburan ingin konvoi keliling kota Pekanbaru.
Sebagian lagi langsung pulang karena tidak sabar untuk memberitahukan kabar
baik ini kepada orang tuanya.
Riski menghampiri Andi. Andi langsung
memeluk pundaknya dengan erat. Teman-teman segera melangkah cepat ke arah
parkiran sepeda motor. Riski berwajah mendung. Andi yang selalu tersenyum
seperti orang gila itu langsung merasakan perubahan wajah Riski yang mendadak
menurun drastis itu.
“Kenapa, kamu Ris?” tanya Andi.
“Ah…” Riski mendongak seperti orang
bodoh.”Nggak ada apa-apa.”
“Terus mengapa wajahmu nggak senang gitu?”
“Suer… nggak ada apa-apa..” Riski
menggeleng-geleng.
“Masa???”
Andi berkerut. Dia tidak percaya Riski
tidak mengalami yang macam-macam. Tapi, wajahnya masih suram. Seperti orang
sedih begitu. Andi berpikir kenapa sobat kentalnya itu berwajah seperti itu.
Setelah lama berpikir, tak terasa langkah kedua kaki sudah sampai di parkiran
sepeda motor. Teman-teman sudah mulai menunggang sepeda motor masing-masing.
Andi mendadak menghentikan langkah Riski yang hendak mengambil sepeda motornya.
“Tunggu dulu, Ris.. aku mau bicara
sebentar.”
“Apaan?”
“Kalau kamu merasa gelisah, segera nyatakan
cintamu kepada Sarah. Aku merasa kamu sedih karena itukan? Karena kamu belum
juga menembak Sarah untuk mengungkapkan perasaanmu itu.”
“Ah…” Riski berkerut.
Teman-teman yang sudah menunggangi motornya
masing-masing keheranan melihat Riski dan Andi kelihatan tegang. Salah satu
dari mereka tidak sabar dan ingin segera cepat berangkat.
“Woi… Bro.. Kok malah ngomong terus dari
tadi? Kapan kita berangkatnya. Apalagi nih sudah jam satu lewat. Yang lainnya
sudah duluan daripada kita. Bagaimana nih?”
“Sssst… kayaknya Riski lagi ada masalah
dalam menembak cewek. Si Andi berusaha menyemangati dia agar segera menyatakan
cintanya kepada cewek yang ia sukai,” jawab dari seorang lagi.
“Wah.. nggak apa-apa.. biar kita tunggu
saja.”
Andi dan Riski saling bicara terus. Hingga
Andi memegang bahu Riski dengan wajah yang tegas dan bijaksana. Biasanya dia
berwajah polos dan agak bodoh dalam menanggapi suatu perkataan. Kini
tiba-tibanya ia menjadi dewasa begitu.
“Ayo… cepatlah.. Nyatakanlah cintamu kepada
Sarah. Kami akan menunggumu sampai kamu membawa Sarah agar ikut bersama kita
keliling kota Pekanbaru.”
Riski menganga karena mendengar kata-kata
teman tulalitnya ini sudah mulai menyambungkan tiap perkataan yang terlontar
dari mulutnya. Tumben si Andi ngomongnya mantap, seru Riski di dalam hatinya.
“Baiklah, aku akan pergi mencari Sarah,”
Riski mengangguk pasti.
Teman-teman yang mendengarkan ikut campur
juga untuk mendorong Riski.
“Ayo… Ris.. cepat kejar cewekmu itu sebelum
dia pulang ke rumahnya.”
“Ini saat yang tepat untuk mengungkapkan
cintamu.”
“Iya..”
“Betul… Betul… Betul…”
“Kayak Upin dan Ipin dong… Betul… Betul…
Betulnya.”
“Nggak nyambung.”
Begitulah seruan mereka yang membuat Andi
dan Riski menoleh ke arah mereka dengan tertawa terkekeh-kekeh. Mereka pun juga
ikut tertawa. Riski pun mengacungkan jempolnya untuk mereka.
“Oke… Bro..”
“Lets go..” seru mereka kompak.
Riski tersenyum. Dia segera berlari-lari
cepat menyusuri sekolah yang mulai sepi. Ia mencari Sarah secepat mungkin
sebelum ia benar-benar sudah pulang bersama Ana. Dia terus mencari di berbagai
sudut sekolah tapi Sarah tidak kelihatan. Apakah Sarah sudah pulang? Sudah
berkali-kali Riski mencari dan bertanya kepada teman-teman yang tahu tentang
keberadaan Sarah saat ini.
“Nggak tahu, nggak kelihatan. Mungkin sudah
pulang sama Ana.”
“Tadi, barusan aku nampak dia lagi jajan di
koperasi di depan sekolah sama Ana. Lihat aja di sana.”
Informasi terakhir itulah yang didapatkan
oleh Riski. Dia sudah ngos-ngosan mengejar bayangan Sarah yang menghilang
mendadak. Ia melangkahkan kakinya menuju koperasi yang berada di luar sekolah.
Koperasi mulai sepi. Masih juga ada beberapa cewek-cewek yang berdiri sambil
berceloteh di depan koperasi itu. Tapi, sosok Sarah tidak tampak. Angan-angan
kosong tidak dapat diraih. Riski mulai putus asa. Sepertinya Sarah sudah pulang
bersama Ana. Riski ingin mengejar Sarah sampai ke rumahnya. Dia juga tidak tahu
di mana Sarah tinggal selama tiga tahun ini. Dia tidak pernah berbicara
sedikitpun dengan Sarah. Untuk mendekatinya pun tidak berani ia lakukan.
Riski kehilangan jejak Sarah. Koperasi pun
ia tinggalkan dengan tangan kosong dan hati yang kecewa. Ia pun menuju ke
tempat parkiran di mana semua temannya menunggu dengan sabar. Riski berjalan
dengan gontai dengan wajah yang tertunduk lesu. Harapan untuk menembak Sarah
hari ini gagal total. Seperti tidak ada hari yang lain. Riski sangat kecewa.
Setiba di parkiran, Andi yang menunggu
keheranan melihat Riski berjalan dengan lesu seorang diri tanpa ada sosok Sarah
yang berjalan di samping Riski. Teman-teman yang lain pun juga keheranan dan
menganga dengan mulut yang selebar-lebarnya. Riski mendekati mereka. Lalu Andi
memegang bahu Riski dengan wajah iba.
“Kenapa wajahmu lesu begitu, Ris? Apakah
Sarah menolakmu?”
Riski masih diam. Wajahnya mendongak ke
atas langit biru yang penuh awan-awan putih yang berjalan berdampingan.
Napasnya sangat berat. Kemudian ia menghela napas dalam-dalam.
“Sarah tidak menolakku. Tapi, Kayaknya
Sarah sudah pulang bersama Ana. Aku terlambat menemui dia dan mengungkapkan
perasaanku kepadanya.”
Andi tersenyum penuh arti. Teman-teman yang
menunggangi sepeda motor masing-masing itu merasakan suasana yang sangat
hambar. Riski tidak jadi mengungkapkan perasaannya kepada Sarah.
“Tenang saja, kan masih ada hari esok.
Kitakan besok mengambil ijazah. Kamu masih bisa menyatakan perasaanmu itu
kepada Sarah. Betulkan teman-teman?”
“Betul… Betul… Betul…,” sorak semuanya.
Mereka tertawa dengan terkekeh-kekeh.
Karena mereka mencoba menghibur Riski yang sedikit gundah gulana akhirnya
membuat Riski ikut tertawa juga. Pada akhirnya Riski mencoba menghibur hatinya
sendiri. Hingga ia memutuskan untuk berangkat konvoi keliling kota Pekanbaru
bersama teman-temannya. Karena keadaan Riski yang belum stabil. Andi yang
menunggangi sepeda motor milik Riski. Mereka bersiap menginjak pedal gas
motornya masing-masing.
“Go… Go keliling Pekanbaru!!!”
Bruuuumm…!!!
Semua sepeda motor langsung melaju.
Meninggalkan sekolah yang mulai sepi. Perasaan yang belum terungkapkan makin
terasa mendalam di hati. Apakah perasaan itu akan bersatu? Entahlah yang pasti
masih ada esok harinya. Perasaan itu ingin keluar menjemput perasaannya yang
lain. Allahlah yang tahu akan masa depan yang sebenarnya untuk memastikan
kejadian yang akan berlangsung. Riski belum menyatakan perasaannya kepada
Sarah. Sarah belum mengetahuinya. Betapa Riski sangat mencintainya. Perasaan
itu pasti akan sampai kepada Sarah. Sarah akan mengetahuinya. Pasti akan
mengetahuinya.
Sumber dari sini
0 komentar:
Posting Komentar