Bencana Alam di Sebabkan Manusia
Kebakaran
Kebakaran hutan, kebakaran vegetasi, atau kebakaran semak, adalah
sebuah kebakaran yang terjadi di alam liar, tetapi juga dapat memusnahkan rumah-rumah dan lahan pertanian disekitarnya. Penyebab umum termasuk petir, kecerobohan manusia, dan pembakaran.
Penyebab Kebakaran hutan, antara lain:
- Sambaran petir pada hutan yang kering karena musim kemarau yang panjang.
- Kecerobohan manusia antara lain membuang puntung rokok sembarangan dan lupa mematikan api di perkemahan.
- Aktivitas vulkanis seperti terkena aliran lahar atau awan panas dari letusan gunung berapi.
- Tindakan yang disengaja seperti untuk membersihkan lahan pertanian atau membuka lahan pertanian baru dan tindakan vandalisme.
- Kebakaran di bawah tanah/ground fire pada daerah tanah gambut yang dapat menyulut kebakaran di atas tanah pada saat musim kemarau.
Dampak yang ditimbulkan dari kebakaran liar antara lain:
- Menyebarkan emisi gas karbon dioksida ke atmosfer. Kebakaran hutan pada 1997 menimbulkan emisi / penyebaran sebanyak 2,6 miliar ton karbon dioksida ke atmosfer (sumber majala Nature 2002). Sebagai perbandingan total emisi karbon dioksida di seluruh dunia pada tahun tersebut adalah 6 miliar ton.
- Terbunuhnya satwa liar dan musnahnya tanaman baik karena kebakaran, terjebak asap atau rusaknya habitat. Kebakaran juga dapat menyebabkan banyak spesies endemik/khas di suatu daerah turut punah sebelum sempat dikenali/diteliti.
- Menyebabkan banjir selama beberapa minggu di saat musim hujan dan kekeringan di saat musim kemarau.
- Kekeringan yang ditimbulkan dapat menyebabkan terhambatnya jalur pengangkutan lewat sungai dan menyebabkan kelaparan di daerah-daerah terpencil.
- Kekeringan juga akan mengurangi volume air waduk pada saat musim kemarau yang mengakibatkan terhentinya pembangkit listrik (PLTA) pada musim kemarau.
- Musnahnya bahan baku industri perkayuan, mebel/furniture. Lebih jauh lagi hal ini dapat mengakibatkan perusahaan perkayuan terpaksa ditutup karena kurangnya bahan baku dan puluhan ribu pekerja menjadi penganggur/kehilangan pekerjaan.
- Meningkatnya jumlah penderita penyakit infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) dan kanker paru-paru. Hal ini bisa menyebabkan kematian bagi penderita berusia lanjut dan anak-anak. Polusi asap ini juga bisa menambah parah penyakit para penderita TBC/asma.
- Asap yang ditimbulkan menyebabkan gangguan di berbagai segi kehidupan masyarakat antara lain pendidikan, agama dan ekonomi. Banyak sekolah yang terpaksa diliburkan pada saat kabut asap berada di tingkat yang berbahaya. Penduduk dihimbau tidak bepergian jika tidak ada keperluan mendesak. Hal ini mengganggu kegiatan keagamaan dan mengurangi kegiatan perdagangan/ekonomi. Gangguan asap juga terjadi pada sarana perhubungan/transportasi yaitu berkurangnya batas pandang. Banyak pelabuhan udara yang ditutup pada saat pagi hari di musim kemarau karena jarak pandang yang terbatas bisa berbahaya bagi penerbangan. Sering terjadi kecelakaan tabrakan antar perahu di sungai-sungai, karena terbatasnya jarak pandang.
- Musnahnya bangunan, mobil, sarana umum dan harta benda lainnya.
Berita"Diduga bakar lahan, 10 perusahaan di Sumsel bakal diaudit"
Merdeka.com - Diduga turut terlibat membakar lahan, 10 perusahaan
di Sumsel bakal diaudit kepatuhannya dalam menjaga kelestarian wilayah
konsesi. Audit langsung dilakukan REDD+ yang digelar awal November
mendatang.Deputi Bidang Operasional REDD+, Willian Sabandar mengungkapkan, audit ini dilakukan kerjasama dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumsel. Pemerintah setempat akan bertugas mengidentifikasi kawasan-kawasan yang terjadi kebakaran lahan dan hutan.
Dari data sementara, kata dia, ada sekitar 5 hingga 10 perusahaan yang diduga terlibat. Perusahaan itu berasal dari hutan tanaman industri (HTI) dan perkebunan.
"Ada 5-10 perusahaan di Sumsel akan kami audit terkait kebakaran hutan dan lahan," ungkap Willian di Palembang, Selasa (28/10).
Saat ini, kata dia, pihaknya tengah melakukan monitoring terhadap kawasan konsesi yang terjadi kebakaran. Secara umum, seluruh wilayah di provinsi itu terdapat kebakaran hutan dan lahan. Namun, pihaknya belum memiliki angka pasti jumlah luasan hutan dan hutan yang terbakar pada tahun ini.
"Titik kebakaran menyebar di Sumsel. Terbanyak di Ogan Komering Ilir. Tapi, rata-rata daerah ada juga," kata dia.
Sebelumnya, Kepala Dinas Kehutanan Sumsel Sigit Wibowo mengungkapkan, luas hutan dan lahan yang terbakar tahun ini terdeteksi lebih dari 10 ribu hektare. 7 ribu diantaranya lahan dan 3 ribu kawasan hutan. Hutan yang terbakar merupakan hutan produksi.
Sumber dari sini
0 komentar:
Posting Komentar